Sabtu, Juni 28, 2008

barusan nglamar SurabayaPost yang katanya baru dimakan Bakri. Alhasil biaya periksa paru, musti disunat ketat. huehuehue...

Rabu, Juli 13, 2005

aku masih menjemur beberapa isi perutku waktu kau lewat dengan selembar senyum ranum. mestinya kau tau aku binatang yang gampang tergoda. apalagi hidupmu sendiri sedang gamang. lalu kau meniupkan beberapa asap kematian ke lehermu sendiri. aku menangis. cuma menangis. kau pun membenciku seumur hidupmu...

Minggu, Desember 28, 2003

oya,

kalo ada yang mau diramal pake cara lain, silakan kirim tanggal/bln/thn lair plus copy-an telapak tangan....huehuehuehuehue........ ;;)
Lolita Compleks





Kau pasti pernah mengenalnya. Dan kalau pun kau belum mengenalnya, kau pasti ingin mengenalnya. Persoalannya beranikah kau mengenalnya? Sebab dengan mengenalnya kau pun akan mengenal dirimu sendiri, eh..... siapa tahu? hahahahahaha.....

Gadis itu namanya Lolita. Tapi kali ini bukan hasil rekayasa genetikanya si gila Freud :) Lolita, teman kita ini, kebetulan punya nama dengan salah satu tokoh kompleksnya si Mumund itu. Sebagai gadis penghuni puri keluarga bangsawan sudah barang tentu Lolita tak boleh sembarangan keluar dari lingkungannya. Lebih-lebih setelah diketahui keluarganya kalau ia sedang menjalin hubungan jalan belakang dengan seorang pemuda biasa dari desa setempat bernama Freddy, maka derita gadis pingitan pun makin terasa di pundaknya :(

Sementara itu ada juga pemuda ningrat(-an) berparap Marcel yang sudah dikenal baik oleh keluarganya dan beberapa kali tembakannya ditolak oleh Lolita. Satu kali Freddy absen dari kunjungan diam-diamnya, beberapa hari Lolita menemukan tempat kencannya tanpa kehadiran Freddy. Dengar-dengar si Freddy sakit keras. Mengetahui ini tentu saja gadis kita bingung tak ada ujung, tiap hari dan malamnya berubah jadi serangga menakutkan dan kecemasan.... Keluar rumah jelas ga mungkin, menunggu sampai pangerannya sembuh rasanya kok ya sudah tak sabar lagi.

Alhasil, datanglah bintang jatuh Marcel dengan sejuta senyum khasnya menawarkan bantuan yang diharapkan dengan sedikit imbalan.......

"Putriku, hamba bersedia menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku guna membantumu menemui kekasihmu. Sebab aku bukan orang yang tahan melihat jerat cinta yang begini mencekik. Begini mencekik...." Ujar Marcel persis kuda liar...... asalkan Lolita mau menyumbangkan sedikit tanda gadisnya pada si ular beludak ini......

Demi dorongan rasa yang tak tertahankan lagi untuk segera menemui kekasihnya, demi cinta yang tak terlukiskan oleh tangan-tangan Eva, maka berangkatlah Lolita menjelang ranjang sakit pangerannya diantarkan nafas bintang jatuh Marcel yang berdengusan dan berpeluh-peluh yang berleleran.

Sesampainya Lolita di sisi ranjang Freddy, maka seperti kebanyakan yuyu-kangkang Marcel pun bersijingkat tenang, perlahan tapi pasti. Ular beludak itu pun pergi.

Tak lama ditunggui limpahan kasih dari sang putri tercinta kesehatan dan kebugaran

Freddy pun pulih seperti sedia kala. Namun, rupanya ada yang tak terpulihkan ketika dia mengetahui keadaan putri pujaannya itu telah kehilangan harga di matanya. Berat memang, tapi Freddy lebih suka melakukannya, meski dia tahu Lolita tak mungkin lagi kembali ke dalam puri.

Alih-alih menghilangkan rasa bersalah Freddy melakukan lari estafet dengan Lolita sebagai piala bergilirnya. Dengan tenang Freddy menyerahkan Lolita pada seorang sahabatnya, yakni Edward atau biasa dipanggil Edo. Sebagai sahabat paling dekat Edo merasa perlu membantu Freddy, namun dia juga merasa ada hal yang tak nalar kalau dia sampai menerima Lolita sebagai isterinya.

"Maafkan aku, Lolita..." Ujar Edo sepeninggal Freddy. "Aku punya seorang sahabat lagi......eee, mungkin dia bisa menerimamu di rumahnya...uhh."

Edo pun mengantarkan Lolita ke rumah sahabat yang telah dijanjikan, yakni Chandra. Dengan penuh kehati-hatian, Chandra menerima kedua tamunya. Dengan penuh perhatian dia dengarkan cerita mereka. Dengan mata seperti tersayat selaksa tanda tanya dari retak fajar pertama akhirnya Chandra angkat bicara, "ehmm....baiklah Lolita engkau tinggal di gubug ini dan jadilah penghuni baru dalam rumah hatiku..."



Cerita begituan benernya dah jayus banget, yah:):"> Masalahnya kemudian kloar pertanyaan di pala gw dari antara kelima tokoh utama kita, siapakah yang kata'lo paling bener, bener, rada bener, salah, dan paling salah. Masing-masing tokoh dah dapat tempat, kan? Jawaban itu bakal nunjukin sebagian dari diri lo, kaya gimananya lo.....? Buat yang penasaran jawaban bisa dikirim ke-email gw, biar privacy kejaga. Ok? cunxttm;;)

Kamis, September 25, 2003

sebenarnya aku ga pengen cerita soal ini.........



semua dimulai waktu jam tiga pagi, sebelum matahari lahir suaraku pecah di udara pasah. semua orang diam menunggu malaikat lewat, tapi mereka tak pernah lewat. malaikat tak pernah lewat untuk kelahiranku. seperti angin tanpa cuaca. anjing, para malaikat mungkin menyangkaku lebih laknat dari anjing.....



lalu mulailah adegan-adegan tipuan tuhan. sejak dari jantung yang dipompa sekerasnya oleh demam kelam dan gasang. jantungku pun jadi lemah. sampe umur 2 tahun

Senin, Agustus 18, 2003

Aku lahir di RSUD Dr. Saiful Anwar, Malang, Jawa Timur. Umur 3 tahun keluarga aku pindah ke Blitar. Sampai dengan kelas 5 SD, masa kanak-kanak aku habis di sana dan berpindah sampai rumah ke-5. Sejak kelas 5 cawu II sampai kelas 2 SMP keluarga aku pindah ke Jakarta. Pertama di sekitar Jembatan Borobudur, Jelambar. Kemudian di Daan Mogot, masih sekitar Jelambar. Rumah ke-3 di Kedaung Kaliangke, persis di depan SMP Negeri 132. Di sini aku mulai terserang paru-paru basah. Rongent di RSJ Grogol dan divonis tinggal 5 tahun lagi. Heran padahal aku bukan perokok. Dari sini kami makin menepi, sampai ke wilayah Sekeloa, dekat Cengkareng. Pada rumah ke-5 kami, saat aku kelas 1 di SMPN 45 Cengkareng, mengalami kecelakaan sekeluarga. Ford Cortina yang dikemudikan Bapak tiba-tiba menubruk sebuah pohon asem di jalur Pelabuhan Ratu - Banten. Semua mendapat perawatan di RSUD Banten. Keluar dari sana, kondisi keluarga jadi kacau. Bapak memutuskan pulang ke Jawa. Kami pun berangkat ke Kediri, kecuali aku. Aku dititipkan pada Bu Haji pemilik rumah petak kami sebagai jaminan tunggakan uang sewa. Banyak hal terjadi, pahit tapi berharga. Sampai akhirnya Bapak menjemputku sebelum lebaran 1995.

Di Kediri, aku sempat menganggur dari sekolah selama 1 bulan. Bapak belum bisa mencarikan sekolah. Selama itu aku lebih suka ngendon di perpustakaan Kotamadya Kediri. Dari sana aku belajar banyak hal; mulai dari psikologi, parapsikologi, sufisme, filsafat, sastra. Aku menjadi rakus membaca saat itu. Menggelikan sebab aku tidak sekolah dan kadang cemburu pada anak seusiaku yang bisa berangkat sekolah pagi-pagi waktu itu, tapi aku nikmati saja - mengalir saja. Begitu masuk sekolah, aku mulai punya beberapa teman, laki-laki dan perempuan. Sebagian cewek melihatku, layaknya pendatang dari kota besar, sebagai silver queen. Sebagian cowok melihatku sebagai ancaman. Sebagian besar yang lain biasa saja. Tapi karena aku tidak suka mencari masalah, mengingat masalah kecemburuan sosial yang mungkin timbul akibat perbedaan pusat dan daerah, maka aku memilih berlow-profile ria. Cara jalanku yang biasanya bergas menjadi kalem. Tapi, anehnya justru kemudian aku mendapat nama panggilan yang kurang mengenakkan.... siphillis. Lha, harusnya gimana sih? Jadi yang biasa-biasa saja susah. Apalagi jadi luar biasa. But anyway, kehidupan belajarku lancar-lancar saja. Aku mulai belajar teater di SMP Negeri III Kediri itu. SMADA Kediri kemudian mengantarku mencapai situasi sosial yang lebih baik, hobby teater dan sastra yang lebih intens.

Lepas SMA aku berangkat ke Bandung, tinggal di Tubagus Ismail Bawah, Simpang Dago. Sebulan di sana, aku dapat kerja di sebuah pabrik tekstil kawasan Dayeuh Kolot. Sebulan di Dayeuh Kolot aku masih sering pulang balik ke Dago tiap minggu. Ternyata, yang membuat aku tidak tahan di Dayeuh Kolot adalah kebebasan sosial yang berlebihan dan keinginanku sendiri untuk bisa seperti anak-anak ITB di tempatku menumpang tidur di Dago. Aku coba cari kerja lain. Diterima di Yogya Dept. Store BIP. Tiga bulan di sana, aku pulang kampung tanpa ijin karena kabarnya seorang teman akrab sedang perlu bantuan. Dia menganggur dan malu ketahuan teman se-SMA yang lain. Tiga hari targetku pulang, cari anak itu, dan balik ke Bandung. Kembali ke Yogya Dept. Store aku berbekal surat pengantar dari Bapak di atas kertas surat lembaga tenaga dalam yang dibinanya. Teman itu langsung diterima kerja dan punya karir lebih bagus dariku. Sebulan kemudian aku keluar, bohemian di Bandung sampai lebaran 1991. Setelah ikut sebuah conversation course aku coba ikut UMPTN. Diterima di Komunikasi-Unair, karena terlalu asyik dengan kenakalan remaja yang terlambat datang, kuliahku kacau sampai sekarang. Selain itu, waktuku juga habis buat cari uang. Kerja mulai dari interviewer, reporter majalah Semangat Baru, sales koran, sales vacuum cleaner, buka usaha foto copy dan kos-kosan, buka usaha kios buku, reporter koran Surabaya Post, Harian Berita Sore, majalah LYBERTY. Sekarang lebih suka menulis kreatif dan tulisan lepas lainnya. Aku juga siap dimintai pendapat sepanjang ada waktu dan kemampuan lainnya...

Puisi-puisiku banyak mengisi kantong sendiri, bahkan di antara penggemar puisi karya tergolong yang tak diminati...Seperti menjadi asurancecourix di desa Galia, pinggiran dari pinggiran....Sebagian puisiku ada di Surabaya News, sebagian puisi jawaku (geguritan) ada di Majalah Joyoboyo, cerpen-2ku ada di Sinar Harapan dan Harian Surabaya News, feature tentang PKL Jl. Airlangga Surabaya sempat nongol di Majalah Aksara dalam versi ber-Bahasa Inggirs...Sementara begitu dulu, rasanya semua ini masih bakal berkembang.....(semoga) pesat :D

digesah dari anginlindap 03.00 waktu m-web UA Sby, 160803